Showing posts with label penulis wanna-be. Show all posts
Showing posts with label penulis wanna-be. Show all posts

Friday, November 5, 2010

Blogger murtad, penulis amatir, dan seorang fans…

Pertama, saya ingin meminta maaf, meminjam istilah si Kambing Jantan, maafkanlah blogger yang murtad ini. Yang selalu malas-malasan update tulisan dan membiarkan blog ini terbengkalai. Yah, karena satu dan lain hal, salah satunya karena si laptop sempat masuk rumah sakit selama dua minggu. But finally, both of us are together now … Semoga kedepannya si laptop tidak masuk angin lagi. Doakan ya temans…

Berbicara soal menulis, sudah jadi rahasia umum kalau saya suka sekali dengan kegiatan yang satu ini (Sok ngartis? Emang khalayak umum peduli lo mau suka nulis atau enggak?). Tapi beberapa tahun belakangan ini, saat status mahasiswa telah melekat pada diri saya (jiah… mahasiswa bo!), bisa dikatakan mungkin saya adalah penulis amatir yang paling tidak produktif dan paling tidak dikenal oleh orang2 di seluruh dunia plus tidak dipedulikan. Sudah amatir, tidak dikenal, tidak dipedulikan, pasif pula! Kalau begini, apakah masih pantas untuk disebut penulis? Hahaha…

Well, sempat terpikir pikiran sesat untuk mengahiri karier kepenulisan saya yang bahkan belum sempat terintis ini (hoho…), saya ingin melupakan ‘menulis’ yang bahkan pernah saya nobatkan menjadi ‘passion’ terbesar dalam hidup saya. Banyak alasan tentu, salah satunya adalah kebosanan ketika tulisan-tulisan yang saya kirim ke media tidak membuahkan hasil, atau ketika ulasan-ulasan saya di blog ini sepi dari komentar (curhat nih? ;)), dan yang paling menyakitkan adalah karena di lingkungan saya tinggal saat ini (Surabaya) jarang sekali orang yang memiliki minat sama di bidang tulis menulis. Hanya segelintir orang saja yang saya tahu. Jauh berbeda dengan saat saya masih tinggal di Jogja dulu, begitu banyak orang di sekeliling saya yang interest dan mengapresiasi tulisan apapun bentuknya, mulai dari yang masih kacangan sampai yang berbobot tentunya. Hal ini mempengaruhi motivasi saya. Menulis menjadi sesuatu yang tidak begitu penting disini. Dan saya pun menjadi semakin terpuruk dalam kemalasan saya (Dramatisasi mode: on)


Namun ternyata Tuhan tidak suka melihat kemurtadan saya ini, sekitar sebulan yang lalu, saya ditelpon oleh redaksi majalah Story, memberitahukan bahwa cerpen saya akan terbit di edisi Story terbaru. Terus terang, saya tidak begitu ngeh… karena sebelumnya saya sering ditelpon oleh majalah remaja x yang memberitahukan bahwa cerpen saya akan terbit, tapi pada kenyataannya tidak terbit-terbit juga meski saya tunggu sampai bertahun-tahun.

Tapi rupanya kali ini cerpen saya beneran nongol di salah satu halaman majalah fiksi remaja itu. Saya ingat, cerpen remaja berjudul “Sleepy Beauty of Nina” itu sudah saya buat sejak beberapa tahun yang lalu, sempat saya kirimkan ke dua majalah remaja lain namun tak kunjung mendapat respon. Big thankfull fo Story Magz who has accept it. Memang, saat saya akhirnya menemukan cerpen saya terpampang bersama foto dan nama saya tentunya, tak ada lonjakan-lonjakan dahsyat seperti saat menemukan cerpen saya saat pertama kali terbit dulu. Bahagia sudah pasti, namun kali ini saya lebih merasa biasa-biasa saja. I deserve to get it!

Namun sesuatu yang lain kembali saya rasakan saat seorang remaja meninggalkan pesan di wall saya. Gadis yang saya taksir masih abg itu bertanya apakah saya penulis cerpen yang ia baca di majalah Story. Akhirnya kami pun terlibat dalam sebuah obrolan. Beberapa hari kemudian ada beberapa remaja juga yang meninggalkan komentar dan kesan yang mereka dapat setelah membaca cerrpen saya. And guess what? I feel like a superstar or something like that, really! Jadi seperti inikah rasanya punya penggemar? Enak betul ya jadi artis itu? Kita disapa dan diperhatikan, karya kita direspon positif, bahkan tak jarang disanjung. Waaaah… ternyata begini lah rasanya. Tak heran banyak artis yang sampai bikin klub khusus untuk penggemarnya.

Yah, meski mereka yang meninggalkan pesan di wall saya belum tentu mau disebut sebagai fans saya (hoho), tapi paling tidak mereka telah memberikan semangat baru bagi saya. Seperti gelembung-gelembung sabun yang memenuhi hati saya, semangat menulis saya kembali bergejolak. Maka dengan ini saya berjanji, akan bertobat dari kemurtadan menelantarkan blog ini, sekaligus memulai kembali dari awal karier menulis saya yang bahkan belum sempat dimulai. Hehe. Terimakasih untuk kalian yang meninggalkan komen di wall saya, yang mau mampir dan membaca blog saya yang tak menarik ini, dan tentu Tuhan yang Maha Esa yang telah menyadarkan saya. Xoxo…

Sunday, June 6, 2010

Vision Board: Antara Over Confidence dan The Power of Dream

Finally… setelah lama berhibernasi di dalam gua kemalasan(hehe…), saya mendapatkan spirit untuk kembali memposting sesuatu ke dalam blog tercinta ini. Sebenarnya terlalu banyak ide dan unek-unek yang ada di kepala saya. Sampai-sampai saya bingung mana dulu yang mau saya share-kan di blog ini. Dan ditambah berbagai hal, diantaranya karena banyak sekali tugas kuliah yang selalu membuat akhir pekan saya sibuk (atau sok sibuk?) maklum tanpa terasa saya sudah ada di penghujung semester 6!!!, dan juga karena beberapa kegagalan yang harus saya alami… saya jadi malas sekali untuk sekedar say-hi di blog saya sendiri. Parah ya?

Kali ini saya ingin membagi pengalaman yang bagi saya ibarat ‘special gift’ yang diperuntukkan Tuhan khusus untuk saya. Cieee…, hehe lebay sedikit nggak papa kan? Mumpung lagi bahagia!  


Cerita berawal ketika saya mengikuti beberapa kompetisi menulis blog beberapa bulan yang lalu. Pengalaman baru memang, sebagai seorang blogger amatir saya memberanikan diri mengikuti lomba blog. Saya pikir, tak berbeda jauh dari lomba menulis biasa. Maka karena kebetulan ada beberapa event lomba blog yang tengah digelar, saya pun dengan semangat 45 mengikuti satu per satu setiap kompetisi. Pertama lomba blog Kompas Muda, lalu Lomba Blog UII, menyusul lomba blog HTR, lomba menulis cerita anak Erlangga, lomba Kompetiblog Neso, dan lomba blog menulis tokoh inspiratif. Semua saya ikuti dengan kesungguhan niat dan totalitas usaha dalam membuat tulisan yang menurut saya layak untuk diikutkan dalam lomba-lomba tersebut. 


Cerita berpindah ke kamar saya (lho?), sembari menunggu hasil lomba-lomba tersebut, saya iseng-iseng (sebenarnya serius juga sih…) membuat sebuah vision board di kamar saya. Ide ini terinspirasi dari sebuah cerita dalam buku The Secret. Bagaimana seseorang bisa meraih apa yang ia impikan selama ini karena ia membuat sebuah vision board, dan menuliskan impiannya itu disana. Setiap hari, ia memandangi tulisannya dan menghayati serta berusaha meyakini bahwa ia akan mendapatkan apa yang ia tulis disana. Dan foila! The miracle happens! He got all of his dreams! Tentu bagi saya, dengan bantuan dan kemurahan Tuhan disamping kekuatan keyakinan dalam diri kita. Dan begitulah, saya berusaha melakukan apa yang dilakukan orang itu. Saya menuliskan keinginan saya menjuarai lomba-lomba tadi. Dengan hati agak ragu dan malu-malu karena takut dibaca orang lain, saya bulatkan tekad untuk menuliskan semua yang saya impikan di papan visi saya. Saya ingin memantaskan diri saya untuk meraih itu semua, begitulah petuah dari Pak Mario yang super. Hehe… , dan ini dia hasilnya pemirsa:

 vision board yang sempat saya telantarkan... ^_^

Dan hari pun berganti bulan, namun pengumuman lomba belum juga muncul. Semua impian itu masih sebatas nangkring di vision board yang saya pandangi tiap sebelum tidur (Norak? Biarin…). Beberapa kali ada teman yang memergoki vision board saya. Dan jika sudah begitu, saya akan menghindar karena malu setengah mati. Saya takut dibilang ke-pede-an, over confidence! Apalagi bila teman saya sampai menyinggung-nyinggung poin ke empat di vision board saya tentang impian saya menjadi juara Kompetiblog Neso dan berhak mendapat kesempatan mengikuti Summer Course di Belanda selama dua minggu. Ampuuuun !!! Saya minder tapi setengah mati memimpikannya. Dan saya pun akan langsung mengalihkan pembicaraan untuk menyelamatkan harga diri saya. Hehe…

Namun ternyata meraih impian itu tak semudah memasang vision board di dinding. Maksud saya, meski saya berusaha meyakini bahwa impian-impian itu akan saya dapatkan, namun ternyata kenyataan tak seindah harapan saya. Pengumuman: saya kalah sodara-sodara! Saya gagal di Lomba Blog Kompas Muda, saya gagal di Lomba Blog HTR, saya gagal di lomba menulis cerita anak Erlangga, saya gagal di lomba blog tokoh inspiratif, dan yang paling pedih… saya kalah telak di Kompetiblog Neso!!!! Hiks… hiks… hiks…(pura-pura nangis). Meski saya tak sampai nangis sampai berguling-guling, tapi hati saya yang gerimis. Cieee…., saya jadi sanksi sekaligus ilfeel dengan vision board saya. Apakah benda itu hanya akan mempermalukan saya? Sepertinya begitu…Maka dengan hati teriris-iris, saya mulai cuek dengan vision board saya. Dan alam pun seperti tahu betapa murkanya saya. Maka di suatu siang bolong yang terik, tiba-tiba angin berhembus kencang melalui kisi-kisi jendela (lebayyyy mode on…) dan dengan hebatnya merobohkan vision board saya. Benda yang sempat saya agung-agungkan itu jatuh berserakan di lantai karena sang angin yang seperti mengerti kesalnya hati saya. Hehe… 

Maka selama beberapa hari ke depan, vision board saya biarkan tergeletak tak berdaya di lantai. Saya benar-benar tak peduli lagi dengan beberapa poin impian yang masih tertulis disana karena belum sempat saya hapus. Dan hari-hari pun saya lalui dengan semangat senin-kamis. Saya berusaha lebih fokus ke tugas-tugas kuliah, saya ingin melupakan cek-cok saya dengan si vision board yang menipu itu!

Hingga dua hari yang lalu, tepatnya tanggal 5 Juni, sesuatu merubah pandangan saya. Saya teringat… bukankah masih ada satu pengumuman lomba lagi yang masih saya tunggu? Ya. Saya lupa, pengumuman lomba blog UII baru akan diumumkan 4 Juni kalau tidak salah. Maka pada pagi hari tanggal 5 Juni saya iseng pergi ke warnet, sekedar ingin tahu siapa yang memenangkan lomba Blog UII. Kebetulan hari tengah libur dan saya sedang free dari tugas kuliah (maksud saya, malas ngutek2 tugas gitu lho…). Pertama, seperti biasa saya membuka akun di facebook dulu. Beberapa saat sibuk membalas comment beberapa teman dan approve friend-request yang ada di list. Setelah puas, saya pun meng-klik blog tercinta. Sekedar ingin mengecek apa ada visitor baru (Maklum blog sepiiii…. Hehe). Saya tak langsung mengecek Blog UII karena dalam hati saya tak ingin sakit lagi, saya pikir tak mungkin saya menang, kalau saya menang sudah pasti sebelumnya saya dihubungi oleh panitia lomba lewat telpon.

Namun coba tebak apa yang saya temukan di shout-box blog saya? Seseorang meninggalkan pesan yang bunyinya kira-kira begini: “Selamat ya sudah menang di lomba blog UII”. Membacanya, jantung saya langsung berdegup kencang. Pemenang? Yang benar saja? Orang ini ngomong apa sih? Jangan-jangan orang ini nipu, pula! Awas kalau cuma ngerjain! Tapi buat apa dia ngerjain saya? Kenal saja tidak? Maka dengan hati dag-dig-dug tak keruan, saya langsung mengecek ke blog UII langsung. Dan dengan harap-harap cemas menunggu karena si kompi warnet loadingnya lama, saya bertanya-tanya… kalau benar saya menang, dapat juara berapa ya? Apa mungkin sesuai keinginan saya yakni juara dua ( maklum hadiah juara dua adalah Blackberry sodara-sodara!!!). Ah, tapi kayaknya saya nggak mungkin dapat juara dua deh… mungkin cuma dapat juara harapan yang paling buncit. Hehe…

Ketika saya akhirnya sampai di page blog UII, ternyata benar pemirsa! Nama saya tercantum dalam daftar pemenang. And guess what… I am on the second line!!!! Dengan kata lain, saya benar-benar berhasil jadi juara 2 Lomba Blog UII 2010 (catatan: it’s means that I am deserve to get a Blackberry) . Persis sesuai dengan yang saya tulis di vision board saya. Refleks saya ketawa-ketiwi sendiri setelah tak lupa mengucap syukur Alhamdulillah pada yang kuasa dan tak henti keheranan. Ini benar-benar diluar perhitungan saya. Saya pikir saya sudah keluar dari permainan vision board ini. Saya pikir saya sudah memutuskan untuk berhenti berharap. Namun ternyata Tuhan menghendaki lain…

Well, inti dari cerita saya ini bukan terletak pada blackberry atau berhasilnya saya di lomba blog UII. Saya hanya ingin menggaris bawahi bahwa vision board itu bukan benda remeh yang pantas ditelantarkan di lantai kamar tak terurus, hihi…. Saya hanya ingin berbagi cerita dan keyakinan, bahwa jika kita benar-benar berusaha dan tak pernah berhenti berharap serta bermimpi… maka segala yang kita inginkan pasti akan diurus Tuhan untuk menjadi milik kita pada saat yang tepat (tentunya…). See… meski saya sempat labil karena gagal bertubi-tubi, namun Tuhan tahu usaha dan impian saya… Dia yang selalu mendengar bisikin hati kita akan dengan murah hati memberi apa yang kita pinta. Sejauh kita tetap berusaha, berdoa, dan tak pernah berhenti bermimpi. Dan vision board… bagi saya ia adalah salah satu point paling penting untuk terus menjaga hati saya agar tidak labil dan lemah dalam proses bermimpi.

Jadi, kalau boleh saya tahu… siapa yang tertarik bikin vision board setelah membaca tulisan ini? Percayalah, miracle will comes and brighten your life! Trust me… ^_^

Cheers,
Robita Asna

Sunday, May 2, 2010

Mengapa Saya Masih Menulis?

Kali ini tentang kisah panjang saya mengenai “menulis”. Ya, menulis sudah seperti nafas kedua bagi saya. Entah sejak kapan saya menemukan ‘menulis’ menjadi passion dalam hidup saya. Kadang saya bingung, saat teman saya bertanya “kenapa suka nulis?”. Lebih bingung lagi ketika teman-teman saya mulai melabeli saya dengan julukan “asna yang suka nulis” atau “obit yang jago nulis”. Secara… selama saya hidup di dunia ini, baru satu kali tulisan saya berhasil dimuat di media (Majalah Kawanku) saudara-saudara! Jadi gimana bisa disebut jago nulis?


Jika mengingat sejarah asal muasal saya berkenalan dengan dunia menulis, mungkin Majalah Bobo lah yang mengenalkan saya pada tulis menulis. Saya suka sekali membaca cerpen-cerpen dan dongeng Bobo. Hingga saat saya kelas 6 SD, saya berkeinginan untuk menulis cerpen karena pada saat itu tengah diadakan lomba cerpen Bobo. Judul cerita yang saya buat pertama kali saat itu adalah “3 Jin”. Hasil dari lomba itu tentu bisa ditebak, saya kalah. Hehe…

Namun tentu saja, saya tidak pernah berhenti menulis. Bukan karena saya orang yang gigih atau apa, tapi saya cenderung tidak tahu malu! Bagiamana tidak, selama saya duduk di bangku SMP, berpuluh-puluh cerpen kacangan nan norak saya kirim ke berbagai majalah remaja seperti Aneka Yess!, Kawanku, dan Gadis. Kesemuanya: Ditolak!!! Tentu saja!
Putus asa? No! Sudah dibilang saya ini bermuka tebal dan tidak tahu malu! Meski berkali-kali naskah saya dikembalikan, kadang saya edit sana sini lalu saya kirim lagi ke majalah lain, dan hasilnya? Haha, betul sodara-sodara: Ditolak!!! Lagi, lagi, dan lagi!
Ingin tahu kenapa? Karena setelah saya baca lagi, ternyata cerpen-cerpen saya itu sangat teramat monoton! Ya. Sama sekali tidak unik, jalan ceritanya biasa-biasa saja, dan bisa dibilang gaya penceritaanya kacau balau. Mungkin begitu membaca kalimat pertama, para editor majalah itu langsung mulas hingga buru-buru mengirim balik naskah saya atau malah tragisnya, memasukkan ke keranjang sampah. Hehe…
Begitulah, awal perjalanan saya. Agak-agak konyol dan menyedihkan. Namun Tuhan itu baik hati teman…, Ketika saya kelas satu SMA, salah satu cerpen saya masuk nominasi Lomba cerpen Rumah Prestasi Yasmin. Saya girang bukan main saat akhirnya cerpen saya menjadi juara harapan satu. Yah, lumayan jadi obat kekecewaan saya selama ini. Padahal kalau saya baca ulang sekarang, cerpen saya itu jauuuuh sekali dari kata ‘bagus’. Entah apa yang membuat Juri memilihnya. Mungkin hanya karena Kebesaran Tuhan semata.
Setelah itu, saya kembali ke dunia hitam putih saya. Nulis-ngirim-ditolak, nulis-ngirim-ditolak. Begitu terus, hingga saat semester awal memasuki bangku kuliah, cerpen saya kembali masuk nominasi. Kali ini Lomba Cerpen Trade-Fair yang diadakan oleh Majalah Kawanku. Girang? Tentu saja. Meski akhirnya saya hanya masuk 10 Besar dengan urutan paling buncit, tapi saya tetap bahagia dunia akhirat karena bisa mengalahkan ribuan peserta lain yang tentu juga ingin mendapatkan posisi saya. Haaaah, saya masih bisa merasakan, bagaimana girangnya saya waktu itu… Cerpen saya yang berjudul Kisah Sebutir Biji Kopi Yang Terbang ke Amerika itu akhirnya berhasil nangkring di halaman majalah Kawanku.

Dan rupanya, itulah terakhir kalinya tulisan saya diterima editor. Setidaknya hingga saat ini. Karena setelahnya, hingga detik ini belum ada lagi tulisan saya yang lolos selesksi editor atau juri lomba. Berkali-kali kirim cerpen ke berbagai majalah, tak ada kabar sama sekali. Bermacam-macam lomba pun saya ikuti. Namun hasilnya masih tetap nihil. Salah satu lomba yang selalu saya ikuti adalah LMCR Lip-Ice Golden Award. Sudah dua kali saya mencoba, namun hasil tetap sama. Cerpen saya belum diakui oleh dunia, kawan! Hiks, hiks, tenang… saya tidak apa-apa kok, yang ada koleksi lip-ice saya selalu bertambah tiap tahun. Hehehe…
Kadang saya heran, apa yang membuat saya selalu kalah? Bahkan juara hiburan pun tak dapat. Payah sekali! Sugesti diri? Ah… nggak juga. Toh saya selalu positive feeling, bahkan pernah suatu kali saya merasa begitu optimis. Lalu apa? Tulisan saya yang terlampau jelek? Ah, ngaco! Meski tak sempurna, tapi saya kan selalu berproses, tulisan saya tak melulu seperti itu. Tentu ada kemajuan, hehe. Kalau sudah begini, saya hanya bisa menggumam… Hmmm, mungkin belum jatah saya saja, atau… mungkin harus lebih rajin nulis lagi biar bisa lebih baik.
Yah, meski saya bukan penulis andal yang sudah menerbitkan novel misalnya… tapi sungguh, saya benar-benar suka menulis. Meski tulisan saya jelek dan membosankan, dan tak peduli berapa puluh kali saya kalah dan ditolak juri dan editor, saya benar-benar sudah jatuh hati dan tak bisa lepas dari menulis. I do like writing! Hmmm, tapi kenapa ya? Lagi-lagi kembali ke pertanyaan itu. Wah, saya jadi pusing sendiri…
Mungkin sudah takdirnya kali ya? Mungkin saat mencipatakan saya, Tuhan sudah menuliskan di Lauhul Mahfudz sana kalau yang namanya Robotitul Asna itu suka nulis dan akan jadi penulis sejati. Amin, hehe…
Baru-baru ini saya mengikuti lomba menulis Esai Tentang HTR, dan hasilnya baru saja diumumkan. Saya… tentu saja kalah sodara-sodara! Hehe… tapi tenang saja, begitu tahu saya tidak masuk nominasi, kalian tahu apa yang saya lakukan? Saya langsung googling mencari info lomba nulis terbaru yang bisa saya ikuti. Ya, mengikuti lomba nulis sudah menjadi pelecut semangat hidup saya, tanpa peduli bagaimana hasilnya. Dan tahu nggak? Ada LMCR Lip-Ice Golden Award lagi! Hahahaha… akankah saya ikut lagi tahun ini? Mengingat dua tahun berturut-turut saya gagal meraihnya? Hmmm… sepertinya begitu. Mengingat ketidak tahu maluan saya dan kecintaan saya setengah mati pada menulis. So, sepertinya koleksi lip-ice saya bakal bertambah banyak nih… Ada yang mau? Hehe…

Hidup Menulis!
Robita Asna

Friday, April 16, 2010

Jika Perempuan-Perempuan Indonesia Adalah Helvy Tiana Rosa...

Jika perempuan-perempuan Indonesia adalah Helvy Tiana Rosa, mungkin tak akan ada lagi cerita pilu tentang seorang ibu rumah tangga yang dianiaya keji oleh suaminya. Jika perempuan-perempuan Indonesia adalah Helvy Tiana Rosa, mungkin tak akan ada lagi kisah tragis TKW kita yang mati di luar negeri. Jika perempuan-perempuan Indonesia adalah Helvy Tiana Rosa, mungkin tak akan ada lagi perempuan-perempuan lemah nan bodoh yang menghuni negeri ini.

Pernahkah terbayang di benak kawan sekalian, apa jadinya bila perempuan-perempuan Indonesia adalah Helvy Tiana Rosa? Andaikan hanya ada sepuluh saja perempuan negeri ini menjadi duplikat Helvy Tiana Rosa, kuyakin mereka akan membawa perubahan berarti untuk kondisi kaum perempuan di Negara ini.


Karena jika perempuan-perempuan Indonesia adalah Helvy Tiana Rosa,maka mereka akan lebih memilih menulis di setiap waktu senggangnya, dibanding menonton gosip dan sinetron stripping sambil merumpikan tetangga. Karena jika perempuan-perempuan Indonesia adalah Helvy Tiana Rosa, maka mereka akan dengan bijak membimbing dan menanamkan kebiasaan membaca dan menulis pada putra putrinya ketimbang membiarkan mereka berjam-jam bermain video game atau facebook. Karena jika perempuan-perempuan Indonesia adalah Helvy Tiana Rosa, maka ketidakadilan terhadap perempuan di negeri ini akan semakin terkikis seiring semangat mereka menyuarakan semangat kesetaraan gender melalui ramuan cerita yang apik dan menyentuh.

Mungkin terlalu muluk dan seperti mengagungkan seorang Helvy Tiana Rosa. Toh ia juga perempuan biasa. Apa istimewanya ia dibanding Bik Iyem yang juga ibarat pahlawan karena selalu membantu meringankan pekerjaan rumah selama dua puluh empat jam penuh? Apa istimewanya ia dibanding ibu guru yang bahkan menyandang gelar pahlawan tanpa tanda jasa karena telah berjuang mencerdaskan anak bangsa? Apa istimewanya ia dibanding para politisi perempuan yang menjadi wakil rakyat di gedung DPR sana? Apa istimewanya ia dibanding perempuan-perempuan Indonesia lainnya? Kau ingin tahu jawabnya kawan? Izinkan aku memberi tahu, bahwa yang membuatnya menjadi sosok yang istimewa dan begitu berbeda dari perempuan kebanyakan adalah: karena ia menulis.

Ya, tak banyak perempuan Indonesia yang menulis. Dalam tatanan budaya Indonesia yang bisa dikatakan masih sangat patriarkis, banyak perempuan menganggap bahwa tugas pokok mereka hanyalah mengurus keperluan rumah tangga dan patuh pada suami serta membesarkan anak-anak. Tak banyak dari kita (perempuan Indonesia) yang berpikir bahwa kita seharusnya juga melakukan sesuatu untuk memajukan dunia, atau setidaknya kehidupan di sekitar kita. Menulis adalah salah satu cara untuk menyuarakan pikiran kita pada dunia. Dan Helvy, adalah satu dari sekian juta perempuan Indonesia yang mempunyai kesadaran untuk melakukannya.

Kiprah dan sepak terjang Helvy sebagai seorang penulis tak perlu diragukan lagi. Puluhan buku telah lahir dari rahim kepenulisannya yang begitu piawai. Pun, kontribusinya untuk generasi muda Indonesia bisa kita lihat dari suburnya kemajuan Forum Lingkar Pena, sebuah forum kepenulisan yang telah menginspirasi banyak kaum muda untuk mencoba menulis. Helvy-lah sang penggagas lahirnya forum tersebut. Tak heran bila ia dijuluki sebagai “lokomotif penulis muda Indonesia”. Dan jangan tanya, berapa banyak penghargaan nasional maupun internasional yang telah ia raih. Ia bahkan dinobatkan sebagai salah satu dari 500 Muslim paling berpengaruh di dunia oleh The Royal Islamic Strategic Studies Centre.

Dan kau tahu kawan? Semua itu bisa ia raih dengan cara menulis! Menulis mungkin pekerjaan remeh temeh bagi banyak orang. Namun seorang Helvy Tiana Rosa telah menunjukkan pada kita bahwa dengan menulis, ia bisa mengubah dunia. Andai ia tak menulis, mungkin Forum Lingkar Pena tak akan pernah ada, dan puluhan penulis muda yang kini meramaikan khasanah kesusastraan kita tak akan pernah lahir. Mungkin kau akan mencibirku, kenapa aku lebih mengistimewakan Helvy ketimbang penulis perempuan Indonesia lainnya? Toh ada yang lebih ngetop, lebih keren, karyanya lebih best-seller. Percayalah kawan… aku punya alasannya.

Sadarkah kau kawan, bahwa diantara sekian banyak penulis perempuan Indonesia, tak banyak yang menulis tentang perempuan. Penulis muda kita lebih gemar menulis kisah-kisah cinta kacangan yang terkadang justru memarjinalkan perempuan sebagai sosok yang lemah, tunduk, dan irasional. Kalau pun ada, penulis sekelas Ayu Utami atau Djenar Mahesa Ayu pun lebih suka mengangkat kisah perempuan dengan bumbu seks. Bagiku, Helvy adalah satu-satunya penulis perempuan yang concern pada masalah perempuan yang sesungguhnya. Bukavu adalah salah satu karya terbaiknya yang memotret bagaimana perjuangan para perempuan tangguh di daerah konflik seperti Ambon, Aceh, bahkan Afrika. Helvy tak perlu menggunakan bahasa atau simbolisme yang terkesan vulgar untuk menunjukkan semangat kesetaraan gender. Dan meski lekat dengan nuansa Islam, tulisan Helvy tidak terkesan menggurui. Cerita yang ia ramu tak membuat kita jemu karena merasa diceramahi, namun justru membuat kita berpikir dan akhirnya menemukan apa saja yang mungkin selama ini tidak pernah kita sadari.

Maka seandainya perempuan-perempuan di negeri ini meniru apa yang telah dilakukan Helvy, mungkin Indonesia akan menjadi negara dengan 1001 penulis perempuan yang cerdas dan kontributif. Mungkin Indonesia akan menjadi Negara pertama yang secara nyata mempraktikkan kesetaraan gender. Mungkin Indonesia akan menjadi Negara demokrasi yang kaum perempuannya tangguh, aktif, dan tidak termarjinalkan. Dan sungguh mungkin Indonesia akan melhairkan jutaan generasi penerus yang brilian, karena sebagaimana tahu, di tangan perempuan lah karakter dan kepribadian seorang anak terbentuk.

Itulah kawan, sekelumit imajinasi indah yang terinspirasi dari seorang Helvy Tiana Rosa. Seorang perempuan yang ibarat ‘kanon’, yang telah mengajariku untuk tidak sekedar menulis, namun juga menggerakkanku untuk bersuara tentang bagaimana perempuan seharusnya. Yang meyakinkanku bahwa menulis tidak melulu soal karya best-seller atau pun uang, namun lebih dari itu, menulis adalah sebuah jendela yang bisa membukakan mata seluruh dunia yang pada mulanya masih tertutup. Yang menunjukkanku tidak hanya tentang bagaimana menulis yang islami tanpa kehilangan estetika, namun juga bagaimana perempuan muslim juga bisa menjadi seorang legenda.

Dan andaikata ada sepuluh perempuan Indonesia adalah Helvy Tiana Rosa, kupastikan bahwa aku akan menjadi salah satunya.