Showing posts with label cerita sehari-hari. Show all posts
Showing posts with label cerita sehari-hari. Show all posts

Sunday, April 3, 2011

Jatuh Cinta dan Pacaran




http://pagotan.blogspot.com


“Eh, pacarnya sekarang siapa?”
“Tunggu, sudah punya pacar kan?”
            Pertanyaan membosankan. Dan kalau boleh jujur, bikin gerah. Hmm, setiap bertemu teman lama (baca: teman SMP dan SMA), pertanyaan itu pasti tidak pernah absen, selalu muncul dalam obrolan kami. Paling saya cuma bisa senyum. Dan akhirnya obrolan akan berakhir dengan membicarakan si A yang tiba-tiba punya pacar super keren atau si B yang ternyata sudah punya baby. Saya sih masih bisa stay cool kalau teman-teman saya yang meributkan masalah ‘pacaran’ ini. Saya maklum, di negara mana pun pastilah kehidupan anak muda itu tak pernah jauh-jauh dari cinta-cintaan atau yang kita sebut ‘pacaran’ itu. Tapi lain lagi ceritanya kalau orang tua yang mulai mengusik perihal ‘pacaran’ ini. Kalau sudah ada kerabat atau teman Ibu saya mengendus-endus dua pertanyaan pamungkas tadi, saya benar-benar jadi speecless. ^^
            Kenapa harus pacaran? Saya sering bertanya-tanya. Mungkin bagi orang lain akan terdengar aneh dan sama sekali tak penting. Tapi bagi saya, kadang hal ini (baca: budaya pacaran) jadi begitu menyebalkan. Apakah karena hampir setiap orang punya pacar, lantas kita juga harus pacaran? Oke, saya tahu jawaban kalian: tentu saja tidak harus! Terserah kitanya. Simple! gitu aja kok repot?. Well, sejujurnya tidak segampang itu lho. Karena tanpa disadari, banyak sekali dari kita yang terperangkap dalam ideologi ‘harus pacaran’ ini. Coba saja, siapa diantara kalian yang galau karena tak kunjung mendapatkan tambatan hati? Siapa yang iri melihat si ‘ini’ selalu terlihat asyik berdua bersama si ‘itu’. Ooooh so sweet! Aku kapan? Payah nih! Masa sudah semester delapan masih gini-gini aja? (Eit, sungguh ini bukan curhat lho!). Tapi jujur deh, banyak pasti yang merasa begitu. Saya sering kok mendengar keluhan-keluhan bernada sama dari teman-teman di sekitar saya.
            Kadang saya geli sendiri kalau ada teman yang galau setengah mati dengan kesendiriannya. Katanya sih... gimana nggak galau? Bentar lagi kita lulus kuliah, apa kata dunia kalau kita belum punya gandengan? Olala! Rupanya inilah masalahnya! Kebanyakan dari kita terlalu fokus dengan ‘apa kata dunia’. Kita jadi merasa dituntut untuk memenuhi standar-standar ‘apa kata dunia’ untuk bisa dikategorikan orang normal. Okeeee, dengan tidak berpacaran bukan berarti kita langsung di-judge sebagai orang abnormal. Tapi itu tadi... ‘apa kata duniaaaaa?’ ^_^
            Bukan karena anggapan orang lain kok! Aku hanya ingin ada seseorang yang bisa memperhatikan dan berbagi kebahagiaan bersamaku. Ceileeee... mungkin itu juga alasan kalian. Oke, Fine! Tapi saya tetap tak habis pikir, akankah dunia kiamat hanya karena kita tidak punya pacar? Well, sebenarnya bukan ‘pacaran’ yang kita butuhkan dalam hidup ini. Tapi cinta. Dua hal itu jelas berbeda bagi saya. Belum tentu ada cinta dalam sebuah hubungan ‘pacaran’.  Dan cinta, tidak harus diekspresikan dengan ‘pacaran’ (in my opinion lho!) ^^
            Kadang saya sepet kalau lihat ada sejoli pacaran dan menganggap mereka adalah pasangan paling bahagia sedunia yang sedang dimabuk cinta. Mereka bangga dan bahagia sekali, padahal yang mereka lakukan itu bukan lain hanya rutinitas budaya orang pacaran pada umumnya. Tak ada yang spesial dan membedakan mereka dari jutaan pasangan di dunia ini. Apalagi kalau tahu mereka itu sebenarnya tidak benar-benar cinta, cuma pengen asyik-asyikan dan dianggap keren aja! Beuh...
            Oh oke, tampaknya sekarang saya sudah benar-benar ngelantur. Mungkin kalian akan melempari muka saya dengan sepatu kalau saya melanjutkan pendapat sarkartis saya. Hohoho. Tapi sungguh, kadang saya penasaran... ketika kita jatuh cinta, haruskah kita mengekspresikan rasa itu dengan berpacaran? Saya pernah dekat dengan seseorang (Wuaah, buka aib #siap-siap ngumpet balik selimut!). Waktu itu saya bilang, kenapa harus pacaran? Toh kita sama-sama tahu bagaimana hati dan perasaan masing-masing. Dan yang terpenting, kenapa hubungan yang belum tentu berlanjut ke pernikahan itu harus dilabeli. Jujur saya tidak suka terikat dan agak risih kalau harus mendapat predikat ‘pacaranya si anu’ apalagi ‘ceweknya si itu’. Aduuuh, jadi berasa kita ini properti!
            Tapi kata ‘dia’ (anggap saja siwon, kyuhyun, atau donghae...kekeke #ditimpuk fans suju), menjadi terlalu sadis kalau berhubungan tanpa status. Batin saya, haduh... memangnya Tuhan mengenal dan menerima status ‘pacaran’ ya? Hihihi. Bagi saya, akan terasa lebih sadis lagi jika kita (baik laki-laki atau perempuan), melegalkan status pacaran itu untuk berbuat hal-hal yang diluar moral dan aturan agama. Kalau sudah begitu, cinta yang tadinya pure dan agung itu justru akan tercemari oleh hal-hal negative itu. Terus terang, saya tidak bisa membayangkan jika pasangan hidup saya kelak adalah orang yang telah berkali-kali menjalin hubungan (baca pacaran) sebelum dia bertemu saya. Bukannya saya kolot atau apa, tapi bagi saya... ketika kita jatuh cinta pada seseorang,  saat itu adalah  momen yang agung yang semestinya kita hargai dan kita jaga. Jangan sampai berubah jadi rutinitas bodoh yang hanya akan membuat diri kita tidak berharga. Apalagi ketika kita tidak cinta atau hanya suka sebatas fisik dan materi saja, sayang sekali kalau kita terburu-buru mendeklarasikan diri menjadi pasangan pacaran yang berbahagia. ^^
            Kembali ke topik awal, belakangan ini ada beberapa kerabat dan sahabat ibu saya yang getol menanyai saya “Udah punya pacar belum?”. Naga-naganya saya mencium sesuatu nih. Apakah kiamat memang sudah dekat? Kenapa para orang tua ini juga jadi gatel dan ikut galau kalau ada anak gadis yang belum punya pacar? Saya tegaskan, bukannya saya tidak punya pacar, tapi saya memilih untuk tidak pacaran! (Apa-apan ini? Can’t believe this! Saya menulis hal seperti ini di Blog!). Mungkin terdengar klise dan omong kosong. Bilang aje situ nggak laku! (Mungkin ini yang ada di benak kalian) ^^. Tapi sejauh ini saya bisa membuktikan komitmen saya ini. Bukannya saya menentang kalian yang berpacaran (silahkan saja, hak masing-masing kok). Tapi bagi saya, hanya ketika kita benar-benar jatuh cinta lah kita patut dan berhak menjalin sebuah hubungan dengan seseorang, itu pun dalam ikatan yang dilegalkan oleh agama. Dengan begitu, cinta itu akan terbebas dari segala hal-hal negative yang hanya akan merusaknya.
            Dulu sekali, saya pernah dengar seorang lelaki berkata dengan bijaknya “Saya menerima kalau orang-orang di sekitar saya menganggap saya aneh hanya karena saya tidak pacaran”. Omo! Bagi saya itu sangat cool dan berkarakter. Saya sampai terpesona begitu mendengarnya (lope-kope ^^). Tapi sedih sekali, karena ujung-ujungnya orang itu kemakan omongannya sendiri. Pacaran juga ternyata, sodara-sodara ladies and gentleman! Hah, payah! Hehe, kok lagi-lagi jadi curhat begini ya? ^_^
            Memang di era seperti sekarang, ketika orang berpikir bahwa mereka mempunyai kebebasan untuk melakukan sesuatu, sesungguhnya mereka masih terperangkap dalam aturan-aturan yang berlaku. Konyolnya seringkali aturan itu bukan lain hanya sebatas budaya ikut-ikutan. Jaman sekarang, kalau ada orang yang tidak pacaran, hanya ada dua kemungkinan: satu, mukanya terlalu jelek sehingga tidak laku, atau dua, dia benar-benar menjaga prinsip untuk mempersiapkan dirinya hanya untuk pasangan hidupnya kelak. Dan sah-sah saja kan kalau saya ingin sekali bisa menjaga komitmen saya untuk menjadi yang kedua itu. ^^
Jadi, dari tadi ngoceh intinya kamu sudah punya pacar atau belum?
Jangan sekali-kali tanyakan hal itu pada saya... ^_^ kalau kata Pak Mario sih, nggak usah khawatir kalau kita ini masih sendiri. Nggk usah galau juga kita bakal dapet pasangan hidup kayak apa? Yang terpenting adalah, jadikanlah diri kita ini pribadi yang pantas dan berharga untuk bertemu dengan seseorang  yang hebat dan penyayang.
Tulisan ini saya dedikasikan untuk teman-teman saya yang merasa galau, terutama Kassande 07 ^_^

           

Sunday, March 20, 2011

Falling in Love wih K-Pop: A new chapter in my life...

Mengawali postingan perdana saya di tahun 2011, saya tidak akan menulis yang berat-berat (memang selama ini tulisan saya berbobot apa? Hoho, tidak sama sekali). Hmm, kali ini saya akan bercerita tentang kegandrungan saya terhadap K-Pop yang baru muncul akhir-akhir ini. Sejujurnya, saya merasa kegandrungan terhadap K-pop ini justru seperti karma bagi saya. Gimana ga? Dulu saya paling risih dan nggak habis pikir setiap melihat teman kos atau teman kuliah yang tergila-gila pada drama dan idola korea. Bagaimana mungkin mereka rela menghabiskan berjam-jam bahkan kadang sehari semalam duduk di depan laptop menonton drama Korea yang hanya akan membuat mereka berderai air mata itu. Saya juga paling gregetan kalo salah satu teman kos mantengin chanel tv yang nampilin acara musik boyband-boyband korea. Haduuuh, please deh... apa bagusnya sih cowok-cowok salon ini? Pikir saya waktu itu.

Namun rupanya karma sedang ingin menghampiri saya. Berawal dari keisengan saya mengopy file drama ‘Personal Taste’ dari teman sekamar saya (Devin), semua kegilaan terhadap K-Pop ini bermula. Sebenarnya saya tertarik pada drama ini karena saat drama ini diputar di televisi dulu, kakak saya sangat menyukainya dan sempat menceritakan sekilas kalau drama ini sedikit mengangkat tema homoseksual. Saya pikir tema ini termasuk baru dan berbeda, makanya saya bela-belain ngopy. Namun setelahnya pun saya tidak langsung menontonnya. Saya masih kurang tergerak dan masih lebih gandrung dengan film-film Hollywood. Hal yang memicu saya menonton drama ini adalah stress menghadapi UTS semester lalu. ^_^

Tau apa yang saya temukan begitu menonton drama ini? Sebuah sosok menakjubkan, perpaduan antara tampan, cantik, bercahaya, dan berkilau-kilau (Lebayyyy). Hihihi. Tau kan siapa yang saya maksud? Yah itulah pertama kali saya berkenalan dengan Lee Min Ho, lelaki cantik pertama yang saya kenal di jagad per-korea-an. Meski saya bukan tipe orang yang bisa jatuh cinta pada pandangan pertama, namun sungguh sosok si Lee Minho ini benar-benar menarik perhatian saya. Apalagi di dalam drama tersebut, pengkarakteran Lee Minho terbangun sangat kuat. Ia digambarkan sebagai sesosok lelaki cantik (baca: tampan) yang dingin namun sangat penyayang, plus pintar masak dan bersih-bersih pula! Hahaha, lengkaplah sudah sesuai standar idaman saya. Hihihi...

                                                                   The evidence ^^ ...

 

Dari sanalah saya mulai gatel untuk berburu drama-drama Korea lainnya. Kebetulan banyak teman-teman di sekitar saya yang ternyata sudah gila K-Pop duluan jauh sebelum saya. Jadilah saya tinggal mengunduh harta karun mereka. Hehe. Dan lembar kehidupan saya sebagai K-Pop lover pun segera dimulai. Saya jadi sering begadang semalam suntuk untuk menonton drama Korea. Dilengkapi dengan tawa terbahak-bahak dan sesekali menitikkan air mata, tentu saja. Khas penonton setia drama Korea. Mungkin bagi yang belum pernah menonton drama Korea akan mencibir (seperti saya dulu). Namun ada hal yang menarik yang membuat saya betah menonton drama Korea. Berbeda jauh dengan sinetron kita (layaknya langit dan bumi), drama-drama Korea tidak hanya mengangkat tema-tema dangkal sebatas percintaan dua tokoh di setiap ceritanya. Ada sesuatu yang baru yang disuguhkan pada penonton. Memang sangat melodramatik kadang, tapi ada hal-hal yang membuatnya jadi ‘seperti’ realita dan sangat enak untuk diikuti.

Dalam kuliah Kajian Budaya Urban semester lalu, dosen saya pernah menjelaskan bagaimana sinetron kita gagal menampilkan realitas dalam setiap ceritanya. Sinetron kita selalu bercerita tentang kehidupan anak SMA atau kuliah, namun yang ada di setiap episode hanya kisah percintaan. Anak yang tertukar, dan perebutan harta kekayaan. Tidak pernah ditampilkan bagaimana kehidupan normal anak sekolah atau anak kuliah pada umumnya. Tidak pernah ada scene bagaimana anak kuliah yang sibuk dengan tugas-tugasnya yang bejibun, yang ada malah sibuk bertengkar demi mendapatkan perhatian lawan jenis. Inilah yang membuat orang-orang yang berpendidikan (baca: kita) malas dan tidak tertarik menonton sinetron. ^_^

Sebaliknya drama Korea justru selalu mengupas seluk beluk kehidupan dan profesi tiap tokoh-tokohnya. Ambilah contoh di Personal Taste, disana digambarkan dengan cukup detail bagaimana kehidupan seorang arsitek lengkap dengan kesibukan dan intrik-intriknya. Atau di drama My Sassy Girl (drama ini sebenarnya sudah agak lawas), disana digambarkan bagaimana perjuangan seorang anak SMA untuk meraih beasiswa juga bisa dijadikan tontonan yang menarik. Di Coffee Prince juga digambarkan bagaimana kehidupan dua tokoh utama dalam usahanya membangun bisnis kafe dan menjadi seorang barista. Sisi inilah yang saya sukai dari drama-drama Korea. Drama Korea tidak memposisikan saya sebagai penonton cengeng yang hanya mengagumi kisah-kisah percintaan, namun ada suatu pelajaran baru yang saya dapat (plus wajah kinclong baru tentunya! Haha). Salah satu yang paling berkesan adalah ketika menonton Woman Who Still Wants to Get Married, dari drama itu saya jadi lebih tahu bagaimana kehidupan seorang yang menjalani profesi sebagai spontanious interpreter. Kebetulan saya mengambil mata kuliah Translation III (Interpretation) semester lalu. Jadi sedikit banyak tertarik dan merasa nyambung dengan detail cerita yang mungkin bagi orang lain tidak terlalu penting itu.

Well, kalau kalian mengira kegilaan saya pada k-pop hanya sampai disini, kalian salah besar. Karena setelah gandrung pada dramanya yang selalu memukau, sekarang saya mulai merambah ke boyband Korea. Haha. Kalian tentu kenal atau setidaknya pernah mendengar Super Junior (suju) kan? Yup, i totally in love with those pretty boys! Im officially their huge fans (temporarily). Nggak tau kan kalau tahu-tahu saya berubah ngefans artis india? :p, hehe para Elf jangan marah ya... ^^

Pertama kali melihat movie video Bonamana Suju adalah saat kelas Semiotic semester lalu. Kebetulan dosen Semiotic kami ternyata juga seorang K-pop lover (parah) ^^. Jadilah beliau menggunakan mv Suju untuk bahan analisis semiotic kami. Awalnya saya keki setengah mati dipaksa nonton video-clip boanamana ini. Pikir saya, apa-apaan ini cowo-cowo geje ngedance, ada yang rambutnya dicat pirang pulak! Wkwkwkw, so norak. Apalagi salah satu sahabat saya (Sundari) yang juga teman sekelompok semiotic memang sudah sejak lama suka dengan salah satu personil Suju. Saya selalu alergi kalau sahabat saya itu mulai lebay memamerkan foto idolanya (Hangeng) dan memaksa saya untuk menyetujui kegilaannya sambil berkata “Cakep kan? Cakep kan?”

Lucunya, sekarang kami bertukar peran. Saat ini saya yang gila Suju dan Sundari sudah sembuh dari ketidakwarasannya itu. Hehe. Sebenarnya saya tertarik pada Suju setelah melihat drama Oh My Lady. Tahu dong siapa yang membetot perhatian saya. Yup, he is the prince charming named Choi Siwon. Xixixi. Well saya tidak akan membahas kegantengannya disini (mengingat saya akan kehabisan kata-kata untuk mendiskripsikannyaa). Yang pasti, Choi Siwon ini adalah idol Asia pertama yang sukses meluluhkan hati saya. Sebelumnya saya tidak pernah ‘ngeh’ jika melihat aktor-aktor Asia, saya lebih terpesona pada bule macam Keanu Reves, George Clooney, Jake Gyllenhall, dkk. Tapi sumpah, pesona dan kharisma Choi Siwon ini benar-benar sempurna di mata saya. Bahkan membuat saya berpaling dari Lee MinHo (mulai bahas hal nggak penting ^^).

second evidence ^^

Singkat cerita, karena Siwon lah saya jadi tertarik berkenalan dengan anak-anak Suju. Awalnya biasa saja, tapi karena saudara kembar saya (Sabiqa Usna) mulai menyuplai sekarung video-video Suju, saya pun mulai menggila. Dan bukan hanya dari movie video single-single mereka saja, saya bahkan lebih gemar menonton talk-show mereka. Dari sana saya mendapati kalau cowok-cowok Suju ini ternyata sangat lucu-lucu dan berkarakter! Kalau di Indonesia, orang yang bisa melucu itu hanya orang yang berwajah seperti Sule, cowok-cowok Suju ini meski hampir semuanya good looking, namun tanpa melucu pun tingkah mereka selalu mengundang tawa dengan sendirinya. That’s why i adore them! ^^

Saya tidak tahu kapan kegilaan ini akan berakhir, namun jujur sebenarnya ini agak mengganggu konsentrasi kuliah saya (apalagi saat ini saya tengah berjuang mengerjakan Thesis). Plus terakhir kalinya saya mempunyai seorang idola adalah jaman SMP dulu (waktu itu saya tergila-gila pada Westlife dan Blue). Kalau dipikir-pikir, hal ini agak sedikit konyol. Namun sejauh ini saya berusaha mengambil sisi positifnya (apa cobaaaaa? Hehe rahasiaaa...). Well, itulah sekelumit cerita tentang Korean fever yang merupakan babak baru dalam hidup saya. Bagi teman-teman yang mau sharing info atau menyumbang drama korea dan mv Suju, i’ll really apreciate it! ^^

Wednesday, June 16, 2010

Nenek Bercelemek Kuning dan Hp Qwerty

Sejak saya tinggal di daerah Karangmenjangan III kira-kira tiga tahun silam, hari-hari saya selalu akrab dengan seorang nenek bercelemek kuning. Nenek itu biasa menjajakan nasi bungkus, gorengan, dan kue-kue basah lainnya dengan gerobak kelilingnya setiap pagi hingga siang menjelang. Yang khas dari nenek ini adalah suaranya yang melengking. Dari kejauhan, saya bisa mendengar suaranya menawarkan dagangannya. Mbaaaak…. Nasi krawu-ne yoooo…., gorengan, onde-onde… begitulah ia biasa bersenandung dengan suaranya yang dahsyat.

si nenek bercelemek kuning


Sering saya terpikirkan pada sosok si nenek. Siapa dia sebenarnya? Dari manakah ia berasal? Apakah ia mempunyai keluarga? Meski saya merupakan salah satu pelanggannya, namun interaksi saya dengan si nenek hanya sebatas jual-beli. Saya kadang tak sampai hati melihat si nenek yang ngos-ngosan setelah berteriak-teriak menjajakan dagangannya. Belum lagi kedua telapak kakinya yang terbakar panas jalanan karena si nenek tak pernah sekali pun terlihat memakai alas kaki. Di hari senjanya, apakah yang membuat si nenek masih bersemangat dalam mencari nafkah di tengah terik matahari dan badai ketika hujan? Apakah karena himpitan ekonomi? Lantas dimanakah gerangan anak dan cucunya?



Entahlah, saya tak berani bertanya. Siapa tahu si nenek memang tipe wanita pejuang yang tak biasa hanya berpangku tangan di hari tuanya. Meksi begitu, hati saya tetap tak bisa berhenti miris setiap kali melihat wajah keriputnya yang kelelahan. Atau senyum ramahnya yang tampak diantara guratan-guratan yang menjadi saksi perjalanan hidupnya. Ah, nenek… apa yang bisa kulakukan untukmu?

Sejauh ini, menjadi konsumennya adalah satu-satunya cara untuk membantu si nenek. Pernah suatu kali terbersit niat untuk membelikan sepasang sandal untuknya, namun saya takut justru akan dianggap merendahkan atau siapa tahu si nenek memang tidak suka memakai sandal. Kadang kesedihan saya bertambah manakala si nenek terlihat bingung menghitung uang kembalian yang harus diberikannya pada saya. Ah, nenek… seharusnya kau istirahat di rumah saja. Duduk-duduk sambil menikmati hari tuamu, bukannya berjalan di atas aspal yang panas.

Melihatnya, saya jadi teringat almarhumah nenek saya. Meski tinggal di desa, nenek saya tak pernah harus turun ke jalan untuk bekerja. Ada anak dan cucu yang mengurus segala kebutuhan nenek saya. Dibanding nenek bercelemek kuning ini tentu kehidupan nenek saya dulu jauh lebih makmur. Jika sudah begini, mendung di hati saya kian berlipat jadinya. Saya seperti tak bisa berbuat banyak untuk si nenek Saya sadar, mungkin nenek bercelemek kuning hanyalah satu dari ribuan potret buram kemiskinan yang mencekik jutaan penduduk negeri ini.

Kadang saya berpikir, betapa kontrasnya kehidupan ini. Hitam putih, terang gelap, kaya miskin, atas bawah, bahagia sedih, makmur menderita. Coba saja pikir, pagi-pagi saya melihat si nenek dengan gerobak dagangannya yang membuat hati ini gerimis. Satu jam kemudian, ketika saya berjalan di koridor kampus, mata saya dipaksa menyaksikan pemandangan para mahasiswa yang asyik pencet-pencet hp qwerty. Tak sedikit dari mereka yang memegang merek mahal. Saya jadi bertanya-tanya, kalau disini (kampus) teman-teman saya dengan mudahnya bisa gonta-ganti hp sesuai trend, lalu mengapa masih ada seorang nenek yang harus berjuang di jalanan sana demi sesuap nasi?
Saya tahu kadang hidup ini bisa begitu keras dan seperti tidak adil. Ada orang-orang yang hidup bergelimang harta namun juga ada orang yang mesti kompromi dengan kerasnya kehidupan, seperti si nenek bercelemek kuning tadi. Paradoks.


Pun saya tidak tahu, harus kepada siapakah semua ini dipertanyakan?


Monday, April 19, 2010

Dilema Perfilman Kita

Dua hari yang lalu saya menonton acara John Pantau. Episode kali ini si John merazia artis-artis dan sutradara yang biasa membintangi dan memproduksi film-film ber-genre horor  plus-plus (baca: berbumbu adegan vulgar). Saat John meminta komentar mereka, jawaban-jawaban yang terlontar dari mulut mereka sungguh membuat saya tercengang.
Salah seorang artis yang ditemui John (entah siapa namanya, artis ini tidak begitu terkenal), dengan tenangnya mengatakan bahwa adegan hot yang dilakoninya dalam sebuah film tergolong masih wajar-wajar saja. Sang artis lalu menyebutkan beberapa adegan seperti kissing, setengah toples, dll. Dan bagi sang artis, semuanya masih dianggap wajar. Lalu saat John berganti menginterogasi seorang sutradara yang dinobatkan sebagai sutradara paling produktif mengingat dalam kurun waktu kurang lebih dua tahun ia bisa memproduksi 12 film horror berbumbu seks. Dengan muka dihiasi senyum tak berdosa, sang sutradara berkata bahwa filmnya selama ini ditunggu-tunggu penonton justru karena adegan buka-bukaannya (Gubrakkkkk!!!). Ia menambahkan bahwa film buatannya sama sekali tidak porno karena masih mempunyai plot atau alur cerita, tidak semata-mata berisi adegan porno.

Tayangan lalu berganti saat John mewawancarai beberapa anak usia SMP dan menanyai perihal yang membuat mereka merasa tegang saat menonton film horror Indonesia. Dengan serentak dan kompak mereka menjawab, “Yang bikin tegang ya tubuhnya Dewi Persik laaaaah…”.
Jawaban anak-anak SMP itu menjadi salah satu potret bagaimana anak Indonesia di masa mendatang bila para film maker kita terus menerus berhibernasi dari akal sehatnya dan mengedepankan rasio bisnis mereka. Sebagai orang dewasa yang sebenarnya juga turut bertanggung jawab atas perkembangan anak  bangsa, tidak seyogyanya mereka pura-pura tidak merasa berdosa atas apa yang mereka lakukan. Namun itulah gambaran dunia perfilman kita. DI tengah optimisme pemunculan sutradara-sutradara berbakat yang memproduksi film-film berkualitas dan layak tonton seperti Riri Reza dengan Laskar Pelangi-nya, kita tidak bisa menampik fakta bahwa Indonesia kini lebih ramai dengan sutradara tak bermoral yang hobi bikin film horor plus-plus. Dari Tiren sampai Tiran, dari Suster Ngesot sampai Suster Keramas, dan sederet judul-judul film lain yang mengusung visi serupa.
Orang tua memang menjadi tameng paling ampuh untuk membentengi para anak bangsa dari ancaman film-film berbahaya yang bisa merusak moral mereka. Namun hal itu tidak serta merta menjadikan film maker kita bisa lepas tangan. Sang sutradara yang ditemui John bahkan mengatakan “Jangan salahin kita dong bikin film beginian, salahin orang tua”. Yang terpikir di benak saya saat mendengarnya adalah, apakah sang sutradara tak pernah berpikir kalau kelak ia juga akan menjadi orang tua yang bertanggung jawab penuh atas masa depan anak-anaknya? Namun begitulah, mungkin peluang bisnis yang menggiurkan membuatnya tak peduli akan apa yang bisa ditimbulkan dari film buatannya.
Sejauh ini, ada beberapa film Indonesia berbumbu plus-plus yang pernah saya tonton. (Catatan: kalau tidak dipinjemin teman atau dikasih copy-annya, saya tidak akan punya keinginan dan waktu untuk menontonnya, itupun saya tonton dengan men-skip beberapa scene). Pertama Tiren yang dibintangi Dewi Persik dan Aldi Taher, lalu Pulau Hantu yang dibintangi Ricky Harun, Kawin Kontrak 2 juga dibintangi Ricky Harun, dan terakhir MBA dibintangi Nikita Willy. Dari keempat judul film tersebut, hanya Kawin Kontrak yang sebenanrya mempunyai ide cerita yang lumayan menarik. Memotret realita kawin kontrak yang berkembang di sebuah desa di suatu kota di Indoensia. Namun sayang, sang sutradara justru meramunya dengan bumbu komedi yang kental dengan adegan tak senonoh, yang justru menjadikan film itu tak ubahnya film-film komedi seks kebanyakan. Jauh dari kata berbobot dan layak tonton. Sedangkan ketiga film lainnya, Tiren, Pulau Hantu, dan MBA, sejujurnya hanya merupakan re-make film-film dewasa kita yang dibuat tahun 70-80-an. Tak ada yang baru dan segar yang bisa kita temui dari ketiga film tersebut. Dari jalan cerita, sejak awal mudah sekali ditebak. Kalau boleh saya jujur, hampir tak ada moral value yang bisa kita ambil dari ketiganya. Semuanya lebih suka mengeksplorasi tubuh wanita sebagai objek dan menggambarkan bagaimana wanita/remaja putri Indonesia bisa begitu bodoh merelakan dirinya dikendalikan oleh laki-laki. Serta bagaimana laki-laki/remaja putra Indonesia hanya bisa berpikiran tentang seks. Padahal saya yakin, banyak sekali wanita dan laki-laki negeri ini yang tidak seperti itu.
Sayangnya, sutradara-sutradara tersebut sangat cerdik memanfaatkan pangsa pasar. Remaja tanggung yang baru mengalami masa puber, tentu akan semakin penasaran dan ingin tahu saat membaca judul dan poster film-film bertanda kutip tersebut. Apalagi ditambah isu pro-kontra yang semakin menarik minat anak. Maka tanpa bisa kita kendalikan anak-anak kita justru gandrung dengan film-film model begituan. Kalau sudah begini, siapa yang patut disalahkan? Menurut saya, disamping orang tua yang memang memegang peranan terbesar, para film maker kita lah yang seharusnya paling bertanggung jawab bila pada saatnya nanti terjadi pergeseran nilai dan moral anak bangsa. Mereka tidak bisa lepas tangan begitu saja dan melemparkan semua tanggung jawab pada orang tua. Para film maker itu seharusnya menyadari bagaimana satu adegan kissing dalam filmnya bisa berpengaruh besar terhadap si penonton yang masih usia belasan.
Dalam pandangan saya, sebuah adegan kissing atau pun “yang lebih dari itu” dalam sebuah film bisa dikatakan “wajar”. Namun menjadi tidak “wajar” ketika adegan itu dimunculkan tanpa adanya keterkaitan yang kuat dengan cerita. Ditambah lagi bila adegan itu bertentangan dengan konteks budaya dan nilai yang digunakan dalam film tersebut. Saat saya menonton “Punk in Love”, jalan ceritanya lumayan unik untuk diikuti. Menonjolkan sisi unik kedaerahan dan komunitas Punk. Namun di akhir cerita ada sebuah adegan yang menurut saya tidak relevan yang justru menjatuhkan harga film itu di mata saya. Yakni adegan ketika Vino Sebastian akhirnya bertemu dengan gadis yang dicintainya. Di tengah kerumunan banyak orang di kawasan perumahan berpenduduk padat  mereka berciuman dan serta merta disambut dengan sorakan dan tepuk tangan. Pikir saja, meski budaya ciuman mulai menjangkiti muda-mudi Indonesia, namun dalam masyarakat kita, berciuman secara terang-terangan di depan khalayak ramai masih dianggap tabu. Lebih tidak masuk akal lagi, ketika diperlihatkan para orang tua yang menyaksikan adegan mereka justru bertepuk tangan. Sang sutradara seperti lupa bahwa setting film tersebut adalah Jakarta, bukan New York atau Las Vegas. Disini terlihat bagaimana sutradara terjebak oleh scene yang sebenarnya tidak perlu. Adegan kissing itu menjadi seperti dipaksakan untuk memberi kesan dramatis dan semata agar diminati penonton. Bahasa kasarnya, hari gene… nggak ada ciumannya???? 
Maka tidak heran jika lantas muncul pesimisme akan perkembangan perfilman Indonesia. Meski banyak film bagus mewarnai bioskop kita, namun selama film-film horror plus-plus itu tak berhenti diproduksi, maka gambaran masa depan anak bangsa kita masih patut dikhawatirkan.

Wednesday, February 24, 2010

Simfoni Hitam (Catatan tentang Bapak…)


Kita selalu tahu, bahwa pada suatu hari nanti kita akan berpulang ke pangkuanNya. Sebagaimana manusia pada umumnya, aku percaya benar akan hal itu. Namun kini aku baru sadar, selama ini kesadaran akan kematian itu hanyalah sebatas cangkang belaka, aku belum bisa merasakan esensi sesungguhnya dari kematian. Ya, aku tak pernah merasa begitu dekat dengan kematian, setidaknya sampai ketika maut menjemput Ayahku beberapa waktu lalu. Saat itulah aku seperti disadarkan bahwa ada sebuah mekanisme yang diciptakan olehNya bernama hidup dan mati. Tak bisa kita tolak dan kita cegah tanpa peduli seberapa kuat kita berusaha dan memohon untuk dijauhkan darinya.

Kutulis note ini bukan karena apa, tapi karena di tengah rasa sedih dan kehilangan… setidaknya aku masih bisa menulis. Yah, inilah yang bisa kulakukan. Setelah doa yang tiada habisnya tentu.

Selama ini aku tak pernah merasa sangat dekat dengan Bapak, pada kenyataanya kami memang tak begitu dekat. Tapi saat malam itu Dokter menyatakan Bapak telah tiada, aku bisa mendengar hatiku hancur seketika. Bergemeretak sangat keras, dan bahkan hingga kini aku masih bisa merasakannya.

Aku tak akan pernah menyebut hari meninggalnya Bapak sebagai sebuah mimpi buruk. Memang tak pernah terpikirkan dan tak akan pernah kuharapkan tiba. Namun aku tak mau menganggapnya sebagai sebuah mimpi buruk, Karena bisa jadi hal ini justru menjadi mimpi terindah bagi Bapak, bisa bertemu dan menghadap Nya untuk mereguk yang selama ini ia perjuangkan. Siapa yang tahu? Setidaknya bagiku, peristiwa ini, meski pahit, namun memperjelas satu hal, bahwa bukan kadang-kadang saja kita mesti mengingat kematian. Karena jika tidak, dan kita terlalu sibuk dengan keduniaan maka kehidupan kita yang seperti sangat berharga ini tak akan berarti apa-apa. 

Sebelumnya, aku tak pernah berfirasat jika Bapak akan segera dipanggil oleh-Nya. Andai saja ada tanda, tentu aku akan pulang lebih cepat semester ini. Andai saja aku tahu hanya 22 tahun waktu yang diberikan-Nya untukku bisa bersama Bapak, tentu aku tak akan pernah punya keberanian untuk merantau jauh dari rumah, meninggalkan kesempatan menghabiskan waktu bersama Bapak. Andai saja aku tahu bahwa hanya seminggu waktuku untuk bisa menatap Bapak setelah sekian lama berkutat dengan tugas kuliah di Surabaya, tentu aku akan menghabisakan seluruh waktuku dalam seminggu itu agar bisa berdekatan dengan Bapak. Ah… tapi manusia memang tak pernah tahu dan penyesalan yang bukannya tak berguna itu selalu datang di akhir cerita.

Rabu pagi 20 Januari 2010 lalu aku tiba di rumah dengan perasaan lelah teramat sangat setelah perjalanan panjang Surabaya-Magelang yang lumayan tersendat. Suasana rumah lumayan ramai karena ternyata Bapak bersama beberapa tukang tengah memperbaiki atap pelataran rumah kami yang tak begitu luas. Ibu pergi ke pasar, dan saudara kembarku Usna tengah tidur. Kesal karena tak ada yang menyambutku, aku langsung merebahkan diri di dalam kamar. Membisu. Saat Bapak menyapaku di pintu kamar, aku sama sekali tak mengacuhkannya. Baru saat ibu kembali dari pasar, kekesalanku mulai mencair. Lantas kami pun makan siang bersama, ada sedikit canda seperti biasa.

Setelah itu, hari-hari berjalan sebagaimana biasanya. Tak ada yang istimewa. Karena kutegaskan sekali lagi, kalau aku memang tidak dekat dengan Bapak sebagaimana aku dekat dengan ibu. Kini saat aku tak bisa lagi menatap wajah Bapak, tanpa sadar aku selalu berusaha sekuat tenaga merangkai memori dan keping-keping kenanganku bersama Bapak. Masih segar dalam ingatanku saat (entah hari apa) aku berdiskusi dengan Bapak tentang pluralisme dan Gus Dur di ruang tamu lepas sholat maghrib. Masih kental dalam benakku saat aku ngeyel mengajak pergi ke Taman Kyai Langgeng. Sudah lama kami tidak rekreasi keluarga, dan aku ingin sekali mencoba flying fox, begitu dalihku waktu itu. Dan Bapak, tentu saja menyetujui. Ia masih sempat menyanggupi hari Rabu depannya kami akan pergi ke Kyai Langgeng. Dan rasanya baru kemarin, Bapak memintaku untuk membelikannya kemeja lengan pendek saat aku kembali ke Surabaya nanti.

Ah, ternyata beginilah rasanya kehilangan. Sakit yang teramat saat orang yang kita sayangi, yang ibarat pondasi bagi hidup kita, pergi dipanggil oleh Nya. Hari Selasa pagi 26 Januari 2010 aku masih sempat ngobrol pendek dengan Bapak di ruang tengah. Ia memang sudah terlihat letih dan tidak begitu sehat. Namun saat aku menganjurkan agar ia memeriksakan diri ke rumah sakit di pusat kota, ia mengatakan bahwa semalam ia sudah pergi ke dokter dan kata dokter ia hanya butuh istirahat yang lama. Maka begitu saja lah akhir percakapan kami. Rupanya itulah percakapan terakhir kami. Andai saat itu aku tahu bahwa keadaan Bapak benar-benar sudah kritis, tentu akan kupaksa dan kuantar Bapak untuk pergi ke rumah sakit.

Hingga Selasa sore, aku masih beraktifitas seperti biasa. Karena memang tengah liburan, aku hanya santai-santai di kamar, nonton film dan nge-game. Tak sekali pun aku menengok Bapak yang sedari pagi beristirahat di kamarnya. Aku memang tak terbiasa memastikan aktifitas Bapak sehari-hari, lebih banyak Bapak yang selalu menyambangiku, lagipula sudah selalu ada Ibu yang setia melayani Bapak. Biasanya, kalau memang membutuhkan aku, Bapak akan memanggil. Dan kupikir, Bapak hanya kelelahan biasa dan butuh istirahat. Rupanya, Bapak memang membutuhkan istirahat panjang. Istirahat yang mengantarnya ke tempat berpulang, ke pangkuan-Nya.

Selasa sore, saat Ibu membangunkan Bapak untuk sholat Ashar, Bapak terlihat begitu lemas dan seperti tidak kuasa untuk bangun, bahkan untuk sekedar menyahut. Saat aku datang pun, Bapak hanya memandangku dengan matanya yang sudah setengah terpejam dan bersuara “Hmmm…” saat kutanya apa yang dirasakannya. Bodohnya aku, saat itu aku masih tenang-tenang saja dan mengira Bapak hanya kebingungan karena bangun tidur terlalu sore. Namun karena tak kunjung menunjukkan reaksi, maka kami sepakat untuk membawa Bapak ke Puskesmas terdekat.

Disana, Bapak sudah tak bisa membuka mata. Ia seperti tertidur tapi tak sadarkan diri. Namun kaki dan tangannya masih bisa bergerak sesekali. Kata dokter jaga di UGD Puskesmas, Bapak mengalami kegelisahan yang akut sehingga terserang koma dalam keadaan tidur. Ia merujuk agar Bapak dibawa ke sebuah rumah sakit swasta di Temanggung, karena katanya penangan dan fasilitas di RS tersebut bagus dan kebetulan ICU RS di kota kami penuh semua. Dengan pengetahuan medis yang hampir dikatakan nol, kami pun menurut. Aku ikut mendampingi Bapak di dalam ambulan. Sama sekali tak terbersit di benakku saat itu, bahwa sebenarnya Bapak mengalami stroke yang mengakibatkan pemecahan pembuluh darah di otak, yang justru akan lebih parah bila langsung dilarikan ke RS dengan ambulan karena goncangan yang bertubi-tubi selama perjalanan bisa memicu pendarahan di otak yang lebih hebat.

Lepas Maghrib kami baru tiba. Kulihat Bapak langsung dimasukkan ke ICU. Sampai disitu aku masih merasa Bapak akan baik-baik saja dan pulih seperti semula. Karena kami tidak sempat membawa baju ganti dan perlengkapan lainnya, Ibu menyuruhku pulang dan besok pagi saja kembali lagi. Aku menurut. Kupikir, Bapak akan segera sadar begitu ditangani oleh Dokter. Namun paginya saat aku datang, ternyata Bapak masih koma. Dan yang lebih membuatku sedih sekaligus marah, belum ada Dokter yang menanganinya, Bapak hanya ditangani oleh beberapa perawat. Kata pihak RS, dokter spesialis syaraf yang akan menangani Bapak baru akan datang jam 2 siang. Namun kami tunggu hingga jam 2 siang, dokter yang dijanjikan belum muncul juga. Aku semakin khawatir dengan kondisi Bapak. Ia seperti tertidur biasa, namun aku mulai ragu… adakah sesuatu yang terjadi pada Bapak? Tapi apakah gerangan? Tak ada yang bisa menjawab kecemasanku. Perawat yang kucecar dengan rentetan pertanyaan pun hanya bisa menjawab kalau Bapak mengalami hipertensi, namun tidak tahu pasti apa yang terjadi pada Bapak.

Jam empat sore telah lewat, namun sang dokter belum datang juga. Aku dan keluarga mulai kehilangan kesabaran, kenapa RS tersebut begitu lamban dalam menangani pasien yang sudah dalam keadaan kritis? Aku baru tahu kalau ternyata pasien yang masuk ICU tidak mempunyai jaminan untuk segera mendapatkan penanganan dari dokter. RS macam apa itu? Tidakkah mereka tahu ini menyangkut urusan hidup dan mati. Akhirnya setelah kukejar beberapa pertanyaan, sang perawat mengaku bahwa sebenarnya sebagai RS swasta, mereka belum mempunyai dokter spesialis sendiri. Mereka masih mengambil dari luar, oleh karenanya mesti mengantri dan kemungkinan dokter itu datang ketika petang.
Rasa khawatir, kesal, kecewa, sedih, dan marah bercampur menjadi satu. Mengaduk-aduk perasaanku hingga tangisku pun pecah. Apalagi bila melihat betapa tak berdayanya Bapak di antara selang oksigen di dalam ICU sana. Padahal dulu lelaki itu yang selalu mengajakku ke taman bermain setiap minggu saat aku masih kecil. Padahal dulu lengan kuatnya yang selalu mengangkat dan mengayunkan tubuh mungilku saat aku ingin pura-pura naik pesawat terbang. Padahal tiga tahun silam ia masih dengan bangganya mengantarku ke Surabaya untuk menuntut ilmu. Padahal setahun lalu ia masih menemaniku check-up saat aku terkena TBC Kelenjar. Padahal seminggu sebelumnya ia masih duduk semeja denganku, membicarakan rencana kami pergi ke Taman Kyai Langgeng.

Hingga hampir petang aku bersama keluargaku bolak-balik ke ruang perawat dan poli syaraf untuk mencari dokter. Namun nihil. Dan saat kami berunding untuk memindahkan Bapak ke RS di Jogja yang tentu lebih berkualitas, akhirnya dokter yang kami tunggu-tunggu pun muncul juga. Dokter itu mengatakan Bapak harus segera dirujuk ke Jogja. Namun karena kondisi Bapak yang sudah kritis, semuanya kembali pada keputusan keluarga. Karena bila dirujuk, resiko dalam perjalanan juga sangat tinggi. Dalam kebingungan yang teramat, kami tak juga menemukan satu keputusan. Kami takut Bapak semakin parah dan butuh penanganan segera, namun untuk dibawa ke Jogja pun resiko dalam perjalanan juga teramat tinggi. Dilema. Kami benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Sementara ibu dan kakak-kakakku sudah merasa pasrah dan tak tega lagi melihat kondisi Bapak yang semakin kritis, Bapak sudah tidak seperti tertidur lagi, napasnya semakin pendek-pendek. Tangan dan kakinya sudah sangat dingin. Tiap beberapa menit terbatuk dan mengeluarkan cairan hitam. Ibu dan kakak-kakakku memilih menunggu di luar ruangan karena tak tega. Namun aku merasa ingin berdekatan dengan Bapak. Aku merasa bahwa andai saja saat itu Bapak sadar, pasti ia akan marah jika tahu aku tak menungguinya. Saat itu, aku masih bersikeras pada perawat dan dokter jaga bahwa tentu Bapak masih bisa ditolong. Aku mengusulkan A sampai Z kemungkinan agar Bapak bisa dirujuk. Aku masih sempat berlari-lari ke kantin RS mencari minyak kayu putih agar bisa menghangatkan kaki dan tangan Bapak yang sudah sedingin es. Saat itu, sesungguhnya aku sedang berusaha meyakinkan diriku bahwa Bapak pasti akan sadar dan sembuh, aku berusaha menampik pesimisme orang-orang. Aku ingin kepercayaanku yang irasional itu bisa menciptakan keajaiban. Bukankah segalanya mungkin bila Tuhan mengizinkan?

Namun rupanya bukan untuk kali ini. Saat keluarga besar dari Bapak datang dan bersama-sama membacakan surat yasin, selang oksigen Bapak dilepas, dan sedetik kemudian dokter menyatakan Bapak telah tiada. Aku masih bisa merasakan bagaimana hancurnya aku waktu itu. Akhirnya malam itu juga jenazah Bapak kami bawa ke rumah. Malam itu hujan turun seolah mengerti kesedihanku, dan di depan rumah kami, sudah berkumpul banyak sekali orang yang menunggu kedatangan jenazah Bapak. Sebagian besar tetangga dan kerabat kami. Malam itu, setelah dimandikan dan dibungkus kafan, kupeluk Bapak untuk terakhir kalinya. Aku merasa hatiku seperti tengah dililit ribuan utas tali yang membuat nafasku terasa begitu sesak. Ya… hatiku berharap semua yang kurasakan itu hanyalah sebuah mimpi, namun nyatanya aku sadar sepenuhnya.

Esoknya, Bapak dimakamkan. Dengan diantar tetangga, kerabat, teman, sahabat, dan handai taulan. Begitu banyak air mata yang tumpah saat itu. Aku tak pernah menyangka akan sebanyak itu air mata yang mengiringi kepergian Bapak. Ternyata begitu banyak orang yang mencintai Bapak. Karena begitu banyaknya pengantar, aku sampai harus bersusah payah agar tetap bisa berada di urutan depan selama prosesi pemakaman Bapak. Dengan mata kabur, kusaksikan tubuh Bapak dimasukkan ke dalam liang lahat. Saat kakakku melantunkan azan, tiba-tiba aku merasakan sebuah rasa rindu yang membuncah. Rindu pada Bapak. Dan rindu itu semakin meluap-luap bercampur dengan perih mengingat kenyataan bahwa rasa itu tak akan terjawab bahkan oleh sebuah pertemuan. Sekarang dan nanti.


Tak akan ada Bapak lagi saat aku pulang liburan tiap semester nanti, tak aka nada Bapak lagi saat aku wisuda nanti, tak akan ada Bapak lagi saat kelak aku menikah dan mempunyai seorang anak nanti. Namun semua kesedihan ini tak akan kubiarkan terlalu berlarut, Meski saat ini aku masih merasakan sensasi simfoni hitam ini, namun sepenuhnya aku sadar bahwa kematian merupakan kodrat dari-Nya. Diriku pun suatu hari nanti akan menemui batas akhir waktuku. Yang bisa kulakukan sekarang adalah tetap bertahan dan berusaha mewujudkan cita-cita yang belum sempat Bapak wujudkan.