Friday, October 23, 2009

Kerja keras sangat di perlukan untuk mewujudkan pariwisata yang sukses

kerja keras sangat di butuhkan untuk mewujudkan pariwisata yang sukses di Kabupaten Lingga ini. Karena usia kabupaten yang masih muda ini maka perlu banyak pembenahan dalam segala bidang.


Maka kerja keraslah yang harus di lakukan agar semuanya bisa terwujud dengan sukses. Mari jadikan kerja keras adalah energi kita.

Thursday, October 22, 2009

Perahu Kertas: the most wonderful love story I’ve ever read…



I just read Perahu Kertas written by Dewi Dee Lestari last Sunday and I want to share how this great novel impress me in several ways. Actually, I already have a big desire to read this novel since several mounts ago when I found its synopsis in Fahd Djibran’s blog. But there are some obstacles that made me couldn’t buy this novel. I have no friend to company me to go to book shop, I don’t have enough time because of my full schedule, and the worse is I don’t have enough money to buy! But luckily… in this October, although my college’s schedule is still trapped me, finally I can get this novel!
It was Thursday if I’m not mistaken, when I found there were nobody in my rent-house. Then I knew that several of them were enjoyed shoping in Togamas bookstore. Spontaniously, I sent a short message to one of them (Halim) to buy me this novel without considering how much money I have in my pocket. And about a couple hours later, I already have this novel in my hand. I can’t describe how satisfy I am at that time. But unfortunately, I had to delay to read that novel until Sunday because I had too many college’s tasks to do. 
And when I started read this perahu kertas at Sunday morning, I can’t stop it! Even to get a lunch or drink when I felt starving and thirsty. This story was really attrack me and I felt really touched by each characters and every scene on it. I could imagine clearly how unique and cute Kugy as the central character, how handsome and cool Keenan as the amateur painter, and even I could feel how deep their feeling into each other. I couldn’t control my emotion when I found Wanda’s character as Kugy’s rival to get Keenan’s attention. How Wanda’s appearance annoyed me and although she is described as the beautiful and smart girl, but I imagined her as the “norak” and dumb one. And when Luhde’s character appeared, I even felt really mad. Haha… as feel as that I am is Kugy ( I totally realize that from the beginning, I read it from Kugy’s point of view).
Well, maybe for other people this novel is just an ordinary novel and not as special as I fell, as I asked one of my friend who already read this novel ( Ainun ) to give comment, and she mentions that this novel doesn’t impress her so much, but for me… this novel is the first romance novel that can makes me touched and even cry! I feel that’s really special because I really seldom touched and cry because of romance story within novel. Even I wonder with myself when several of my friends cried because of the love story in Ayat-ayat Cinta and I was not. 
I though this Perahu Kertas really different from Ayat-Ayat Cinta and others novel. The love journey between Kugy and Keenan is not only about love, but also about sharing a dream, and I think that’s the point that astonished me. I always amazed by story which is related to the struggle to follow a dream, as I startled by the Ikal’s journey in Laskar Pelangi. Moreover, the most essential from this novel is that this story really inspired me that I shouldn’t forget my childhood dream. After read it, I totally agree that sometime we have to be brave to decide our way of life. And that happiness is not about how much money we will have or how successful our career will be, but it is about how satisfy we are when we reach our real dream.



Memang Apa Salahnya Jadi Orang Desa?


Kamis sore sepulang kuliah saya mampir ke Pentagon Digital Color Print depan pasar Karangmenjangan untuk cetak foto. Kata teman saya, disana lumayan murah meski memang kualitas gambarnya tidak begitu bagus. Kita bebas mencetak berapa pun foto dalam satu lembar kertas foto ukuran 1OR hanya dengan biaya Rp 10.000,-.
Awalnya, interaksi saya dengan si mas-mas (pencetak foto) hanya berkisar mengenai ukuran foto yang akan dicetak. Beberapa saat si mas-mas sibuk klak-klik mouse, meng-edit foto yang sebenarnya sudah saya edit ( maklum masih amatir, jadi kerjaan saya ga ngaruh kali). Akhirnya setelah beberapa lama proses print pun selesai. Si mas menyodorkan hasil foto yang telah dicetak pada saya sambil senyum-senyum ga jelas. Belum sempat saya menanyakan harga keseluruhan, tiba-tiba si mas bertanya, “Habis mudik ya mbak?” tanyanya masih dengan senyuman lebar yang ga jelas maksudnya.
Kening saya berkerut, pikir saya, ih… ngapain sih ni mas-mas tanya-tanya, mau tau aja urusan orang. Namun demi kesopanan, saya tersenyum sambil mengangguk. Mungkin si mas ini termasuk orang ramah yang gemar bertanya kabar pada orang asing.
Tapi ternyata pertanyaannya berlanjut, bahkan meruncing.
“Mudik dari desa ya mbak?” tanyanya innocent.
“Kok?” saya pun ikut-ikutan sok innocent.
“Dari setting potonya pedesaan semua” jawab si mas. (Kebetulan sebagian foto yang saya cetak memang foto-foto saya saat lari pagi bersama keponakan saya di jalan ujung desa, dimana terlihat pemandangan sawah, gunung, dan jalanan desa yang sepi tapi indah).
“ Mbaknya dari desa ya?” si mas rupanya tak sabar lagi dan langsung nyelutuk bahkan sebelum saya sempat menjawab.
Jujur, untuk sesaat saya speechless tanpa tahu harus berkata apa. Eh ada mas-mas lain yang ikut nimbrung. Mungkin baginya topik ini merupakan sesuatu yang menarik diantara timbunan pekerjaannya yang menjemukan.
“Pasti desanya di luar jawa, ya kan mbak?!” tebaknya dengan penuh keyakinan.
“Bukan…” jawab saya berusaha sabar,( saya ini kan orang desa, jadi harus sabar… sabar…)
“Jadi mbaknya emang dari desa ya?” si mas yang tadi rupanya masih penasaran.
“Pendatang di Surabaya datang dari mana lagi kalau bukan dari desa, mas?” jawab saya ketus. Pengennya saya tambahin “ Memangnya masnya datang dari mana mana kalo bukan dari desa juga? Las Vegas?”
Dua mas-mas iseng itu pun tersenyum puas mendengar jawaban saya.
Tanpa menunggu pertanyaan selanjutnya yang pastinya akan menyudutkan saya sebagai orang desa, saya langsung menyodorkan uang pembayaran biaya cetak foto. E si mas-mas lagi-lagi tersenyum dan berkata “ Bayarnya bukan disini mbak, tapi di sana…” katanya sambil menunjuk ke arah yang bagi saya tidak jelas.
“Dimana mas?” tanya saya bingung karena ada dua pegawai di arah yang ditunjuk si mas.
“Di mbak yang itu…” jawab si mas masih ga jelas.
“Yang mana?” geram saya. Jelas-jelas ada banyak mbak-mbak.
“Yang itu, mbak-mbak with kaos BLUE” jawabnya sambil senyum-senyum, mengerling ke arah si mas yang satunya.
Saya pun melangkah pergi menuju mbak berkaos BLUE. Dalam benak saya bertanya, apa yang ada di kepala si mas pencetak foto itu? Apa mereka pikir meski saya tampak sebagai mahasiswa dengan setumpuk buku, namun karena saya dari desa, lantas saya tidak tahu apa itu BLUE, sehingga mereka mesti menggunakan kalimat “mbak berkaos BLUE” dan bukan “mbak berkaos BIRU” untuk mengintimidasi saya. Atau saya saja yang terlalu sentimen padahal si mas hanya bermaksud guyon?
Well, untuk pertama kalinya saya terpikir… memang apa salahnya jadi orang desa? Kenapa banyak orang, siapa pun itu apapun profesi dan statusnya, menjadi merasa lebih superior saat berhadapan dengan orang desa? Memangnya apanya yang salah menjadi orang desa sehingga term “orang desa” mengandung sebuah nilai status sosial yang lebih rendah ketimbah “bukan orang desa”?
Sejak kapan ada aturan bahwasanya orang desa berada satu tingkatan di bawah strata sosial orang kota? Sejak kapan orang desa selalu dianggap katrok, bodoh, miskin, tidak higienis, dan hal-hal yang serba minus lainnya? Bahkan kemudian muncul istilah “ndeso” yang berarti ketinggalan jaman. Bagaimana bisa kata “ndeso” bisa mempunyai makna negatif? Siapa yang bikin aturan? Kalau bukan hasil dari budaya kita yang salah kaprah.
Padahal kalau dipikir-pikir, hingga saat ini banyak sekali orang-orang yang notabene berasal dari desa telah sukses berkiprah di masyarakat bahkan menjadi orang besar. Sebut saja …, Inul Daratista sang ratu ngebor pun berasal dari desa kecil di Pasuruan, bahkan orang nomor satu negeri ini: SBY, berasal dari sebuah desa di Pacitan. Kurang bukti apalagi bahwa orang desa itu sungguh benar-benar bukan orang katrok apalagi bodoh. Mereka punya kapasitas lebih dari cukup untuk menjadi sukses. Tapi kenapa orang desa masih diidentikkan dengan konotasi negatif meski telah banyak orang desa yang berhasil membuktikan kapabilitasnya?
The answer is (according to me lho…), karena sayangnya, banyak orang desa yang ketika telah sukses, kemudian terlalu menikmati perannya menjadi orang besar yang kebetulan telah bertransformasi menjadi orang kota, sehingga lupa dengan desa mereka yang sebenarnya perlu dibenahi. Bahkan kadang lupa bahwa dirinya dulu juga orang desa ( seperti si mas tukang foto tadi mungkin?). Nggak munafik sih, mungkin saya pun akan cenderung begitu jika kelak menjadi seorang menteri misalnya (amiiiiin…), atau penulis best seller barangkali (double amiiiin), atau istrinya menteri juga gapapa, atau enakan jadi selebritis aja ya? ( halah ngelantur…).
Tapi sungguh, coba seandainya saja orang-orang desa yang telah sukses dalam bidangnya mau kembali ke desanya dan membenahi masyarakat serta kehidupan disana. Tentu seseorang tidak akan dipandang rendah lagi hanya karena mereka berasal dari desa.
Kondisi semacam ini memang tak bisa diubah hanya dengan kesadaran satu dua orang saja. Saya sadar sebenarnya ini jauh lebih complicated karena ini menyangkut tatanan budaya dan paradigm masyarakat yang terlanjur mengakar kuat dalam masyarakat kita. Dan yang tentunya akan terasa dan terlalu berat bila dibahas disini. Well, last but not least… all I want to say is that I am a villager, grasroot, or maybe even a clodhopper! And I am very proud of it. No matter what they say! And I hope I can become one of hopeable villager that can built a better condition and not just talking too much in this note. What about you? ^_^

“Spanglish”, Nasionalisme, dan Seorang Ibu…


Beberapa bulan lalu saya nonton sebuah film yang menurut saya sangat bagus. Judulnya Spanglish. Film ini tidak hanya bagus dari segi cerita dan pesan yang ingin disampaikan, tapi yang paling membuat saya terkesan adalah kehebatannya dalam memukau saya di akhir cerita, dimana dari sebuah adegan yang mungkin terasa biasa bagi orang lain, tapi begitu menohok hati saya.
Spanglish bercerita tentang seorang ibu muda asal amerika latin yang mempunyai jiwa nasionalisme yang sangat tinggi. Ia membesarkan anak perempuannya seorang diri ( tak diceritakan kemana gerangan sang suami ). Ia bekerja serabutan demi membiayai hidup putrinya. Ia seorang ibu yang hebat yang pantang terlihat lemah di depan putrinya. Awalnya mereka tetap bertahan di Meksiko, namun besarnya kebutuhan hidup membuatnya terpaksa bermigrasi ke Amerika . Ia pun pindah ke Amerika dengan satu prinsip kuat, bahwa sebisa mungkin tidak hidup dengan American yang bisa saja membuatnya kehilangan jati diri. Hingga putrinya beranjak remaja, ia hidup di perkampungan Meksiko di Amerika. Ia hidup dengan budaya meksiko yang kental, bahkan ia tak berniat belajar bahasa inggris dan tetap menggunakan bahasa spanyol dalam kesehariannya. Masalah muncul saat ia mulai bekerja sebagai pembantu rumah tangga di sebuah keluarga kulit putih Amerika. Pada awalnya ia hanya mengalami kendala bahasa biasa. Namun lama-lama ia merasakan betapa budaya Amerika yang begitu berbeda jauh dari budayanya mau tak mau ikut mempengaruhi kehidupannya, dirinya, dan terutama putrinya.
Konflik mulai tumbuh saat sang nyonya majikan amerika-nya tergila-gila pada putrinya yang cantik, polos, dan pandai. Nyonya amerika itu rupanya terobsesi mempunyai anak bak Barbie hanya karena tubuh anak perempuannya lumayan tambun. Sang nyonya lantas sering memberi hadiah putrinya, mengajak putrinya jalan-jalan, dan lambat laun secara kasat mata mengubah putri mungil meksiko itu menjadi sangat amerika. Puncaknya saat sang nyonya merekomendasikan beasiswa di sebuah sekolah bergengsi, tentu saja si gadis kecil girang bukan main. Ia begitu bahagia membayangkan masa depannya yang sudah pasti terjamin. Namun sang ibu muda meksiko itu menyadari, bahwa jika ia menyetujui putrinya untuk masuk ke sekolah bergengsi yang sarat nilai amerika itu, bukan tidak mungkin ia akan kehilangan putri manisnya untuk selamanya. Maka ia memutuskan untuk menolak tawaran sang majikan dan memutuskan untuk berhenti bekerja. Ia ingin menjauh dari keluarga amerika itu dan memulai kehidupan baru, kembali pada jati dirinya sebagai seorang latin.
Sudah bisa ditebak, sang gadis cilik pun memberontak, protes dan berteriak-teriak heboh sambil menangis karena merasa ibunya sendiri justru menghancurkan masa depannya. Dramatis sekali, melihat adegan gadis cilik yang sangat manis itu meneriaki dan membentak ibunya di sepanjang jalan saat mereka baru keluar dari rumah sang majikan amerika. Hebatnya, ibu muda cantik itu diam seribu bahasa dan tak balas membentak. Satu hal yang membuatnya tampak sangat terluka adalah saat putrinya mengatakan sebuah ungkapan khas amerika saat ia hendak mendekati putrinya, yakni, “ Not for now, I need some space”. Tatapan ibu muda itu meradang, seakan tak percaya putri kesayangannya mengucapkan kalimat itu. Ia lantas berkata bahwa bagi mereka, orang meksiko, tak akan pernah ada jarak antara ibu dan anak. Tidak saat mereka bertengkar sekali pun. Lalu dengan suara lirih, sang ibu menanyakan satu hal pada putrinya yang membuat saya benar-benar terharu… yakni, “ apakah satu hal yang sangat kau inginkan dalam hidupmu adalah menjadi seseorang yang sangat berbeda dari aku, ibumu?” . Kalimat itu begitu mengena. Tentu pada akhirnya sang putri pun menyadari bahwa ibunyalah yang benar dan tahu apa yang terbaik baginya.
Mari kita tinggalkan cerita mengharukan di atas, ada dua hal yang ingin saya garis bawahi dari film Spanglish ini. Yakni pertama, rasa nasionalisme yang dimiliki ibu muda meksiko tadi. Begitu kuat bahkan di tengah kesulitan hidup dan lingkungan asing yang sangat berpengaruh. Coba umpamakan jika diri kita berada dalam posisi ibu muda itu. Tak perlu muluk-muluk, sederhana saja… kita kadang kurang bangga dengan bahasa kita sendiri dan begitu mengagungkan bahasa inggris. Dan tanpa sadar, bukan hanya bahasa saja, tapi nilai, budaya, dan pola hidup kita ikut-ikutan berubah.
Hal kedua yang menyita perhatian saya adalah pertanyaan ibu muda tadi pada putrinya. “ apakah satu hal yang sangat kau inginkan dalam hidupmu adalah menjadi seseorang yang sangat berbeda dari aku, ibumu?”. Pertanyaan itu seharusnya datang pada kita semua. Tidakkah pertanyaan itu membuka penglihatan kalian semua? Sebuah penglihatan yang membuka kesadaran yang selama ini atau bahkan mungkin tidak akan pernah kita sadari di waktu mendatang. Kita ( atau mungkin saya saja?) tidak pernah sadar, bahwa disamping kita mengagumi dan menghormati ibu kita, menyanjungnya bak bidadari dan menganggapnya wanita tercantik dan terbaik yang ada di dunia ini, tapi kita sekaligus juga berusaha menggapai sebuah mimpi, keinginan mendasar dalam hidup bahwa kita ingin menjadi seseorang yang sama sekali berbeda dari ibu kita. Seperti gadis cilik meksiko tadi yang begitu ingin mendapat beasiswa karena ingin menjadi orang terpelajar dan bermasa depan cerah, tidak seperti ibunya yang tidak bisa berbahasa inggris dan hanya menjadi pembantu rumah tangga. Lihatlah kita… berjuang mati-matian demi sebuah masa depan dan kondisi yang lebih baik dari kondisi ibu kita. Meski menuntut ilmu adalah sebuah keharusan, namun coba telisik dalam hati kita… adakah kita pernah menginginkan menjadi seperti ibu kita? Ibu kita yang tiap subuh sudah berangkat ke pasar untuk menjual sayur mungkin? Ibu kita yang berjuang keras melawan terik di tengah sawah sana? Ibu kita yang rela jauh-jauh terbang ke luar negeri menjadi “TKW” demi kita? Ibu kita yang bergaji kecil dari hasil mengajar agama di SD desa? Ibu kita yang hanya pandai masalah dapur dan tidak bisa berbahasa inggris? Ibu kita yang tidak pernah kenal ruang presentasi dan setelan jas bermerek kecuali daster lusuh yang selalu dipakainya?
Ah, alih-alih itu semua, kita justru berusaha menjadi begitu berbeda dari wanita yang melahirkan kita. Saya tidak mengatakan itu salah, toh keadaan memang mesti diperbaiki, namun kadang kita menjadi tidak sadar dan tidak peka, bahwa usaha kita untuk memperbaiki keadaan justru telah mengubah diri kita yang sesungguhnya dan seharusnya, memerangkap kita dalam sebuah kebahagiaan semu bernama materi, dan menjauhkan kita dari figur seorang wanita yang seharusnya kita teladani.
Well, kembali ke Spanglish, bagi yang belum nonton… tidak ada alasan untuk tidak menontonnya. Film ini sedikit banyak bisa membuat kita berkaca. Unik, berbobot dan menyentuh, kecuali adegan-adegan “kotor” khas Hollywood yang jika tidak ditampilkan pun tidak akan mengurangi esensi ceritanya ( sebaiknya di-skip, bisa bikin ilfil ), plus tokoh suami sang nyonya yang menurut saya jika tidak diperankan oleh Adam Sandler akan jauh lebih bagus. ^_^

Sunday, October 18, 2009

Pariwisata lingga dengan makanan khasnya

Pariwisata lingga

pariwisata lingga banyak menawarkan keindahan, bukan saja objek-objek wisatanya namun banyak hal lain yang sangat menarik terutama kulinernya.


Foto makanan ini adalah kepurun yang terbuat dari sagu biasanya di sajikan dengan kuah yang terbuat dari bilis, belimbing ,lada, dan terasi dan rasa pedasnya sangat menggugah selera.

Jika anda tertarik datang aja ke kabupaten Lingga rasakan bedanya .

Wednesday, October 14, 2009

"Lakse" Masakan Khas wisata kuliner di LINGGA

Pariwisata lingga

Lakse nama makanan diatas merupakan salah satu makan khas milik Kabupaten Lingga. Rasanya yang enak dan bahan-bahan terbuat dari sagu yang banyak tumbuh di Lingga cocoklah kiranya jika makanan "Lakse" ini di jadikan salah satu icon Pariwisata Kuliner LINGGA.


Jika Anda tertarik mencicipi enaknya lakse ini datang saja ke Kabupeten Lingga, nikmati icon-icon "pariwisata kuliner Lingga" yang beragam jenisnya. (Foto ini saya ambil dari handphone k618i)

Rumah Peninggalan PT.Timah di DABOSINGKEP

Pariwisata lingga

begini salah satu bentuk rumah bekas peninggalan PT. TIMAH , PT.Timah yang dulu sempat jadi kebanggan DABOSINGKEP Dabosingkep Yang berada masih wilayah Kabupaten LINGGA merupakan salah satu kecamatan yang fasilitasnya cukup lengkap karena telah dulu di bangun oleh PT. Timah.


Foto ini diambil dari handphone w200